Bengkulu – Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bengkulu kembali menggelar serial meeting lanjutan dengan unsur media massa dengan tema “Pemenuhan Hak Perempuan yang Berhadapan dengan Hukum di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIB Bengkulu”. Kegiatan ini diselenggarakan di Rumah Makan Ayam Bekakak, Kelurahan Tanah Patah Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu, Kamis (25/8/2022) siang.

Ketua PKBI Daerah Bengkulu Abdul Halim Ali Siregar, SP., mengatakan, kegiatan PKBI Bengkulu selama ini adalah dalam rangka memberikan dukungan kepada anak dan mewujudkan penerimaan sosial bagi warga binaan perempuan (WBP) melalui pemberian perhatian dan kasih sayang orang tua kepada anaknya, dikalangan Lembaga Pemasyarakatan perempuan Kelas IIB Bengkulu.

“Kegitan ini bertujuan untuk mendorong dukungan masyarakat melalui media massa dalam pemenuhan hak-hak dasar perempuan dan menghilangkan stigma dan labeling kepada WBP,” ujarnya.

Lanjutnya, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dalam program Inklusi tahun 2022 mengembangkan perhatian terhadap Warga Binaan Perempuan (WBP) di Lapas Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIB Bengkulu. Perhatian terpusat mengenai cara pengasuhan yang efektif diberikan WBP kepada anaknya walaupun sedang menjalani masa tahanan yang diharapkan agar WBP memiliki pemahaman dan keterampilan dalam pengasuhan. PKBI telah melakukan pelatihan parenting skill kepada WBP di bulan Juli lalu yang ikuti oleh 10 orang WBP dan 10 orang petugas LPP.

“Dalam konsep pola asuh terdapat 3 jenis pola asuh yaitu pola asuh otoriter, pola asuh permisif dan pola asuh demokratif. Anak-anak yang ditinggal oleh ibunya yang sedang menjalani masa hukuman di lapas, bukan bearti lepas dari asuhan orng tua. Oleh karena itu, pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anak adalah pola asuh jarak jauh atau long distance parenting. Pola asuh jarak jauh bearti peran orang tua dalam mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan anak dilakukan dengan cara jarak jauh,” bebernya.

Dalam hal ini LPP memberikan waktu berkunjung tatap muka keluarga inti terkhusus anak sebanyak 3x dalam seminggu. Selain itu LPP juga menyediakan wartel yang dapat digunakan WBP untuk menghubungi anak-anak dan keluarga mereka melalui telepon serta layanan video call setiap hari minggu.

“Bahkan WBP yang memiliki anak 0-3 tahun diperbolehkan untuk membawa anaknya ke dalam lingkungan lapas guna untuk dapat mengasuh anaknya,” pungkasnya.