Bengkulu, Swarabengkulu.com – Pakar Ekonomi Bengkulu, Prof. Dr. Kamaludin,SE.,MM mengatakan keputusan pemerintah untuk melakukan penyesuaian harga BBM dinilai sudah tepat untuk menyelamatkan APBN ditengah fluktuasi harga minyak dunia. 

“Asumsi harga BBM saat menentukan APBN 2022 yakni $63/barel. Namun dalam perjalanannya, harga BBM ini melonjak sangat tinggi terutama karena terjadinya perang di Ukraina serta sanksi terhadap Rusia yang merupakan salah satu produser minyak dunia. Dengan adanya gejolak tersebut, harga Indonesia Crude Petroleum (ICP) meningkat diatas $100/barel. Sehingga, kenaikan yang jauh di atas asumsi ini menimbulkan suatu tekanan terhadap APBN,” ujarnya, Selasa (27/9/2022).

Sebagai langkah awal, Pemerintah mengambil kebijakan untuk menaikkan anggaran subsidi BBM. Dari yang awalnya Rp152 triliun pada APBN 2022 menjadi Rp502,4 triliun sesuai Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2022. Artinya, Pemerintah telah menaikkan 3 kali lipat dari anggaran awal.

“Kondisi ini tentu saja mengkhawatirkan untuk struktur APBN kita, sehingga penyesuaian harga BBM adalah langkah terakhir yang diambil pemerintah,” tambahnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Muhartini Salim, SE.,MM yang juga menjabat sebagai Ketua Program Doktor Ilmu Manajemen UNIB mengungkapkan bahwa peningkatan aktivitas perekonomian masyarakat menyebabkan konsumsi BBM juga meningkat sehingga kuota BBM yang tersedia diperkirakan akan habis sebelum akhir tahun 2022. 

“Kondisi perekonomian masyarakat saat ini sudah mulai pulih sehingga konsumsi BBM juga meningkat. Namun di sisi lain berdasarkan data dari Kemenkeu untuk Pertalite 86% penggunanya yakni rumah tangga dimana 80% merupakan kelompok mampu, dan untuk Solar lebih ekstrim 95% digunakan oleh kelompok mampu. Kondisi ini menggambarkan bahwa subsidi BBM tidak tepat sasaran sehingga harga BBM perlu disesuaikan kembali dan dialihkan dengan bentuk subsidi yang lain yang lebih tepat sasaran,” pungkasnya.