Melihat Kesiapan Indonesia untuk Menghadapi Ancaman Resesi 2023

Swarakarya.com – “Ancaman Krisis Ekonomi”, sejak tahun 2020 kata-kata ini sering terdengar di kanal berita dan media sosial, bahkan kata-kata tersebut berulang hampir setiap tahun. Faktanya pun benar demikan, sejak tahun 2020 perekonomian Indonesia mengalami masa-masa yang cukup sulit. Pada tahun 2020 ekonomi Indonesia diguncang dengan pandemi Covid-19 yang menyebabkan aktivitas ekonomi turun drastis. Belum sepenuhnya lepas dari pandemi Covid-19, pada tahun 2021 ancaman inflasi karena kenaikan harga BBM pun mulai menghantui perekonomian Indonesia, dan sekarang perekonomian Indonesia akan dihadapkan dengan ancaman resesi 2023. Kesiapan Indonesia menghadapi ancaman resesi 2023 merupakan topik yang hangat dibicarakan. Oleh karena itu, penulis mencoba untuk menjelaskan apa itu resesi ekonomi 2023, penyebabnya, dan melihat kesiapan Indonesia menghadapi ancaman resesi 2023 menurut para ahli.

Apa itu Resesi Ekonomi dan bagaimana dampaknya resesi?
Resesi ekonomi adalah kondisi dimana perekonomian suatu negara sedang berada dalam kondisi yang buruk, perekonomian dinyatakan memburuk dan mengalami resesi jika pertumbuhan ekonomi bernilai negatif selama 2 kuartal berturut-turut. Para ekonom memprediksi pada tahun 2023 akan terjadi penurunan perekonomian global, penurunan ekonomi global ini disebabkan karena beberapa faktor yang saling menguatkan, perpaduan faktor-faktor ini dikenal dengan istilah The Perfect Storm. Salah satu faktor yang selalu menjadi topik pembahasan adalah terjadinya guncangan ekonomi serta terjadinya inflasi yang tinggi dan tak terkendali. Selain itu, perang antara Ukraina dan Rusia juga memperkeruh keadaan, memanasnya perang antara kedua negara ini menyebabkan sumber daya alam yang biasanya diimpor dari kedua negara tersebut menjadi mahal, seperti meningkatnya harga gandum. Hingga akhirnya faktor-faktor inilah yang menyebabkan peningkatan harga bahan baku yang menyebabkan roda perekonomian tersendat dan akhirnya berdampak kembali pada pemerintah, pengusaha, hingga masyarakat umum.

Apakah Indonesia Akan Mengalami Resesi 2023?
Pakar ekonomi menyatakan Indonesia siap menghadapi resesi ekonomi 2023 salah satu yang berpendapat demikian adalah Eddy Junarsin, PhD, Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Menurut Eddy Junarsin, PhD, kondisi inflasi yang hanya berkisar 5,42 persen pertahun merupakan modal yang kuat untuk menghadapi prediksi resesi ekonomi tahun 2023 dibandingkan negara lain seperti Amerika tingkat inflasinya sampai 9 persen. Sekarang beberapa bagian Eropa mengalami (inflasi) 10 persen. Selain itu, jika kita melihat pada struktur perekonomian Indonesia, maka akan kita dapati pada tahun 2021 perekonomian Indonesia sangat bertumpu pada konsumsi rumah tangga yaitu sekitar 54,42 persen dari total PDRB Indonesia. Ekonomi yang bertumpu pada konsumsi rumah tangga memang menunjukan bahwa perekonomian tersebut bergantung pada seluruh lapisan masyarakat dan cenderung tidak mengalami pertumbuhan ekonomi yang cepat seperti negara-negara besar dunia, seperti amerika, china, singapura, perancis, dan lainnya yang mengalami pertumbuhan ekonomi diatas 6 persen pada tahun 2021. Namun ekonomi kerakyatan ini memiliki keuntungan yaitu tidak rentan terhadap guncangan ekonomi global. Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah Redjalam menilai perekonomian Indonesia yang ditopang oleh konsumsi sebenarnya cukup baik. perekonomian yang ditopang oleh konsumsi domestik merupakan aset yang bisa menjaga pertumbuhan di tengah gejolak perekonomian global.

Meskipun memiliki kesiapan yang besar untuk menghadapi ancaman resesi 2023, dampak resesi akan tetap terasa untuk rakyat dan pemerintah Indonesia. Kenaikan harga bahan baku akan menyebabkan peningkatan harga barang jadi, sebut saja barang yang paling terasa kenaikan harganya untuk kita yaitu mie instan. Pada akhirnya, peningkatan harga ini akan mengurangi kemampuan beli masyarakat, dengan menurunnya kemampuan beli ini maka akan semakin sulit bagi setiap rumah tangga di Indonesia mengeluarkan uangnya untuk membeli barang atau jasa, yang pada akhirnya, hal ini dapat menurunkan perekonomian Indonesia. Menjaga daya beli masyarakat merupakan PR bersama (baik sebagai pemangku kebijakan maupun sebagai masyarakat) yang harus terselesaikan ditengah ketidak pastian ekonomi global saat ini. Dari sisi pemerintah, pemerintah dapat menerapkan kebijakan yang mendorong peningkatan daya beli seperti mengizinkan mudik lebaran atau hari besar lainnya dengan syarat menerapkan protokol kesehatan. Dari sisi masyarakat, kita seharusnya berbelanjalah seperti biasa dan jika memiliki kelebihan pendapatan maka dapat membantu masyarakat lainnya dengan saling berbagi atau bersedekah yang dapat meningkatkan daya beli masyarakat yang kurang mampu.

Oleh : Ikhlasul Fajri, ASN BPS Kabupaten Lebong